Jikasudah kering, karya dapat dibakar menggunakan tungku keramik, dengan bahan bakar yang bervariasi seperti gas, kayu, minyak tanah atau listrik. 29/08/2019 · 5 teknik pembuatan keramik : 09/12/2021 · teknik pembentukan badan keramik dengan menggunakan alat putar kaki (kickwheel) dapat menghasilkan banyak bentuk yang simetris.
Teknikpilin merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan dalam proses pembuatan kerajinan tangan berbahan dasar tanah liat atau gerabah. Dikutip dari buku Terampil Berkreasi, Nandang Subarnas (2005: 74), pengertian teknik pilin ialah teknik membentuk bahan baku tanah liat dengan cara memilin sehingga tampak seperti tali. ADVERTISEMENT.
DownloadFree Orang Yang Diwawancarai Untuk Dimintai Informasi Disebut Place just, downloads making use of this application are swift and fluid. Also they are protected, given that MP3 Rocket scans all data files for hazardous written content prior to finishing the download. Share
Jelaskanproses pembuatan kerajinan keramik dengan menggunakan teknik pilin! Tugas; Soal; JAWABSOAL.ID . PERTANYAAN. 1 Jawaban . TUGAS. Teknik pilin :merupakan teknik pembuatan keramik dengan cara membuat pilinan kecil seprti cacing. Dijawab oleh. Lina Gottlieb Jr. Related Questions:
6Cara Membuat Keramik Lantai dari Awal Hingga Jadi. Dipublikasikan oleh Aileen Velishya ∙ 11 December 2021 ∙ 5 menit membaca. Dalam mendirikan sebuah rumah tentunya banyak komponen konstruksi yang harus Pins penuhi agar rumah dapat berdiri dengan baik dan sesuai dengan keinginan. Mulai dari semen untuk membuat bangunan rumah, atap rumah
. 0% found this document useful 0 votes402 views7 pagesDescriptionTeknik Pembuatan KeramikCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes402 views7 pagesTeknik Pembuatan Keramik Teknik yang umumnya digunakan pada proses pembuatan keramik diantaranya a. Teknik coil lilit pilin merupakan teknik pembuatan keramik dengan cara membuat pilinan kecil seperti cacing. b. Teknik tatap batu/pijat jari pinch cara pembuatan keramik dengan membuat bulatan tanah liat yang dipijit dari tengah. c. Teknik slab lempengan pembuatan keramik dengan cara membuat lempengan dari tanah liat. Cara pembentukan dengan tangan langsung seperti coil, lempengan atau pijat jari merupakan teknik pembentukan keramik tradisional yang bebas untuk membuat bentuk-bentuk yang diinginkan. Bentuknya tidak selalu simetris. Teknik ini sering dipakai oleh seniman atau para penggemar keramik. d. Teknik Putar Teknik pembuatan keramik dengan menggunakan alat putar. Teknik pembentukan dengan alat putar dapat menghasilkan banyak bentuk yang simetris bulat, silindris dan bervariasi. Cara pembentukan dengan teknik putar ini sering dipakai oleh para pengrajin di sentra-sentara keramik. Pengrajin keramik tradisional biasanya menggunakan alat putar tangan hand wheel atau alat putar kaki kick wheel. Para pengrajin bekerja di atas alat putar dan menghasilkan bentuk- bentuk yang sama seperti gentong, guci dll. e. Teknik Cetak Teknik pembentukan dengan cetak dapat memproduksi barang dengan jumlah yang banyak dalam waktu relatif singkat dengan bentuk dan ukuran yang sama pula. Bahan cetakan yang biasa dipakai adalah berupa gips, seperti untuk cetakan berongga, cetakan padat, cetakan jigger maupun cetakan untuk dekorasi tempel. Cara ini digunakan pada pabrik-pabrik keramik dengan produksi massal, seperti alat alat rumah tangga piring, cangkir, mangkok gelas dll Disamping cara-cara pembentukan diatas, para pengrajin keramik tradisonal dapat membentuk keramik dengan teknik cetak pres, seperti yang dilakukan pengrajin genteng, tegel dinding maupun hiasan dinding dengan berbagai motif seperti binatang atau tumbuh-tumbuhan. Indonesia memiliki kerajinan keramik dari berbagai daerah yang berciri khas. Setiap daerah mempunyai keunikan dari bentuk, teknik hingga ragam hias yang ditampilkan. Seperti Sentra Kerajinan Keramik Dinoyo, Malang. Keramik Dinoyo memang terkenal memiliki karakter sendiri dalam pola hiasannya yaitu lebih ke motif flora dan fauna. Sentra kerajinan keramik Kiaracondong di Kota Bandung, bentuk keramik yang biasa dibuat berupa vas bunga, guci, dan berbagai souvenir keramik untuk berbagai event. Kekayaan hayati di Indonesia telah menginspirasi keindahan dan keunikan bentuk kerajinan keramik menjadi keramik Indonesia yang kental akan corak budaya yang membedakannya dengan keramik China, Jepang, atau Eropa. Bahan Pembuatan Keramik Bahan utama yang digunakan untuk membuat produk keramik klasik, yaitu lempung. Lempung adalah aluminium silikat hidrat yang tidak terlalu murni yang terbentuk sebagai hasil pelapukan dari bahan beku. Terdapat tiga jenis lempung/tanah liat utama yang di bedakan oleh warna, ukuran partikel, sifat keliatannya yaitu Tanah liat kaolin berwarna putih, berukuran partikel sederhana, kurang keliatannya/sifat plastis. Tanah liat bola ball clay berwarna hitam atau kelabu, berukuran partikel halus, keliatan yang tinggi. Tanah liat api fire clay berwarna kemerahan, berukuran partikel antara sederhana dan besar dan komposisi besi oksida yang tinggi. Kedua-dua tanah liat kaolin ini kebanyakan di gunakan dalam industri keramik konvensional seperti industri pembuatan piring, mangkuk, peralatan kamar mandi, lantai dan dinding, perhiasaan rumah seperti pot bunga porselin, peralatan listrik untuk voltan rendah dan tinggi. Alat Pembuatan Keramik Alat putar tangan Alat putar ini merupakan alat yang paling sederhana dan digerakkan atau diputar dengan tenaga tangan. Kepala putaran selain sebagai tempat memutar juga berfungsi sebagai beban pemberat agar putaran lebih tahan lama. Bagian-bagian alat putar tangan A. Kepala putaran, B. As putar, C. Lager bearing, dan D. Dudukan putaran. Cara pengoperasian Kepala putaran diputar menggunakan tangan kiri berlawanan dengan arah jarum jam sampai berputar dengan cepat. Alat putar kaki Alat putar ini merupakan alat yang digerakkan atau diputar dengan kaki. Penggerak alat putar kaki dapat dibedakan menjadi dua yaitu roda pemutar fly wheel dan pedal treadle wheel. Roda pemutar dan kepala putaran yang menggunakan pedal juga berfungsi sebagai beban pemberat sehingga putaran yang dihasilkan menjadi lebih lama. Bagian-bagian Kick Wheel Kepala putaran, As putaran, Lager bearing, Roda pemutar fly wheel, Meja, Dudukan kaki, Dudukan lager, H. Tempat duduk Tungku pembakaran Tungku pembakaran atau kiln adalah suatu tempat/ruangan dari batu bata tahan api yang dapat dipanaskan dengan bahan bakar atau listrik dan dipergunakan untuk membakar benda-benda keramik. Fungsi tungku pembakaran adalah untuk membakar benda-benda keramik yang disusun di dalamnya dan dibakar dengan menggunakan bahan bakar khusus kayu, batu bara, minyak, gas, atau listrik sampai semua panas menyebar dan membakar semua yang ada di dalam tungku itu. Pembakaran atau radiasi panas berlangsung di dalam tungku atau di bawah ruang bakar dan kelebihan asap keluar melalui saluran api atau cerobong tungku. Sirkulasi panas harus dibiarkan secara merata dan bebas di sekeliling benda pada saat dibakar. Slab Roller Untuk membuat lempengan tanah liat plastis yang digerakkan dengan sistem mekanik. Alat ini juga dilengkapi dengan ukuran untuk menentukan ketebalan lempengan tanah liat. Ukuran panjang 122 cm, lebar 82 cm, dan tinggi 109 cm. Jarum needles Untuk memotong bibir, menusuk gelembung udara, dan menggores benda kerja. Ukuran panjang total 14 cm, mata jarum 4 cm. Kaliper caliper Untuk mengukur diameter benda kerja. Ukuran panjang 20 cm, 25 cm, dan 30 cm, bahan alumunium, plastik atau kayu. Rol kayu Untuk membuat lempengan tanah, dengan panjang rol kurang lebih 45 cm dan diameter 6 cm – 8 cm dan dilengkapi dengan bilah kayu yang panjangnya 50 cm dan tebal 0,5 cm- 0,7 cm dan lebar sekitar 3 cm. Spons Untuk menyerap kandungan air, menghaluskan benda kerja, dan membersihkan handtool, cetakan gips pada waktu pencucian. Ukuran diameter 8 cm dan tebal 6 cm, bahan busa. Butsir kawat wire modelling tools Untuk merapikan, menghaluskan, mengerok, membentuk detail, dan membuat tekstur benda kerja. Ukuran panjang 22 cm, bahan kawat stainless steel, tangkai kayu sawo. Butsir kayu wood modelling tools Untuk menghaluskan, membentuk detail, merapikan, membuat dekorasi, merapikan dan menghaluskan benda kerja. Ukuran panjang 22 cm lebar 3 cm, bahan kayu sawo Kawat pemotong wire cutter Untuk memotong ujung bibir, dasar benda kerja, dan memotong tanah liat plastis. Ukuran panjang 4 cm, panjang tangkai 6 cm, bahan kawat stainless steel. Pisau pemotong felting knife Untuk memotong, mengiris lempengan tanah liat. Ukuran; panjang total 17 cm, mata pisau cm. Teknik dalam Pembuatan Kerajinan Keramik a Teknik Pijit Tekan Teknik pijit tekan pinch adalah teknik pembentukan badan keramik secara manual. Caranya tanah liat dipijit tekan dari bentuk bola menjadi bentuk yang diinginkan dengan menggunakan jari-jari tangan.
1. Pendahuluan Keramik sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari seperti kaca, piring, gelas,vas, dan sebagainya. Keramik pada awalnya berasal dari bahasa Yunani keramikos yang artinya suatu bentuk dari tanah liat yang telah mengalami proses pembakaran[1]. Kamus dan ensiklopedia tahun 1950-an mendefinisikan keramik sebagai suatu hasil seni dan teknologi untuk dapat menghasilkan barang dari tanah liat yang dibakar, seperti gerabah, genteng, porselin dan sebagainya. Tetapi saat ini tidak semua keramik berasal dari tanah liat. Definisi pengertian keramik terbaru mencakup semua bahan bukan logam dan anorganik yang berbentuk padat[1]. Gambar satu hasil pengolahan bahan keramik[12] Umumnya senyawa keramik lebih stabil dalam lingkungan termal dan kimia dibandingkan elemennya. Bahan baku keramik yang umum dipakai adalah felspard, ball clay, kuarsa, kaolin, dan air. Sifat keramik sangat ditentukan oleh struktur kristal, komposisi kimia dan mineral bawaannya. Oleh karena itu sifat keramik juga tergantung pada lingkungan geologi dimana bahan diperoleh. Secara umum strukturnya sangat rumit dengan sedikit elektron-elektron bebas[1]. Kurangnya beberapa elektron bebas keramik membuat sebagian besar bahan keramik secara kelistrikan bukan merupakan konduktor dan juga menjadi konduktor panas yang jelek. Di samping itu keramik mempunyai sifat rapuh, keras, dan kaku. Keramik secara umum mempunyai kekuatan tekan lebih baik dibanding kekuatan tariknya[1]. 2. Klasifikasi Keramik Pada prinsipnya keramik terbagi atas a. Keramik tradisional Keramik tradisional yaitu keramik yang dibuat dengan menggunakan bahan alam, seperti kuarsa, kaolin, dll. Yang termasuk keramik ini adalah barang pecah belah dinnerware, keperluan rumah tangga tile, bricks, dan untuk industri refractory [1]. b. Keramik halus Fine ceramics keramik modern atau biasa disebut keramik teknik, advanced ceramic, engineering ceramic, technical ceramic adalah keramik yang dibuat dengan menggunakan oksida-oksida logam atau logam, seperti oksida logam Al2O3, ZrO2, MgO, dll. Penggunaannya elemen pemanas, semikonduktor, komponen turbin, dan pada bidang medis[1]. Keramik termasuk dalam kategori thermoset yaitu suatu benda yang telah mengalami pemanasan dan pendinginan kembali tidak dapat berubah lagi kebentuk asalnya. Berdasarkan fungsi dan strukturnya produk keramik dapat dikelompokkan menjadi 2 dua jenis yaitu keramik konvensional dan keramik maju. Keramik konvensional menggunakan bahan konvensional bahan alam fasa amorf. Keramik konvensional dapat dibagi / diolah dalam 2 jenis yaitu Industri keramik berat dua golongan masing – masing terdiri dari refraktori, mortar, abrasive dan industri semen. Industri keramik halus yang terdiri dari industri gerabah / keramik hias, porselen lantai dan dinding tile, saniter, tableware dan isolator listrik[3]. Keramik maju dikenal juga advanced ceramicsmenggunakan bahan baku artifikal murni yang mempunyai fasa kristalin. Beberapa jenis industri keramik maju antara lain • Zirkonia dan silikon, seperti untuk kebutuhan otomotif blok mesin, gear, mata pisau dan gunting. • Barium titanat untuk industri elektronika kapasitor dan gunting. • Keramik nitrid oksida zirkon nitride, magnesium nitride, cilikon karbida digunakan untuk high technologi, cutting tools, komponen mesin, alat ekstraksi dan pengolahan logam. • Fiber optic di industri telekomunikasi, penerangan, gedung pencakar langit dan tenaga surya[3]. 3. Bahan Baku Pembuatan Keramik Secara garis besar bahan baku yang dipergunakan untuk membuat keramik terdiri atas 3 macam triaxial, yaitu tanah liat clay, pasir, dan feldspar. a. Tanah liat clay kandungan utama dari tanah liat antara lain kaolinite montmorillinote, illite, halloysite. Perbedaan kandungan tanah liat memberikan sifat yang berbeda-beda. Sifat tanah liat yang penting untuk pembuatan keramik antara lain plastisitas kemampuan untuk dibentuk tanpa mudah retak, fusibilitas kemampuan untuk dilebur, bahan baku pasir kuarsa, fungsi sebagai bahan non plastik[3]. Gambar 2. Bahan baku tanah liat dihancurkan dan dikeringkan[12] b. Feldspar Bahan baku feldspar berfungsi sebagai bahan pengikat dalam pembuatan keramik, dan menurunkan temperatur pembakaran. Ada beberapa jenis bahan feldspar di antaranya K-feldspar, Na-feldspar, dan Ca-feldspar[3]. Gambar feldspar[14] c. Kaolin Nama kaolin berasal dari Cina, kauling yang berarti pegunungan tinggi, yaitu gunung yang terletak dekat Jakhau Cina yang tanah lempungnya sudah dimanfaatkan dalam pembuatan keramik sejak beberapa abad lalu. Kaolin adalah tanah liat putih yang mempunyai mutu penyusutan yang baik selama pengeringan dan pembakaran. Clay jenis ini merupakan clay yang paling penting dalam pembuatan keramik dan paling putih di antara claylainnya, karena kandungan besinya yang paling rendah. Sifat – sifat kaolin antara lain • Kekuatan keringnya rendah • Titik leburnya 17000C – 17850C • Dalam keadaan kering berwarna putih • Memberi warna putih pada badan keramik • Setelah dibakar berwarna putih[3]. Gambar d. Kuarsa Kuarsa adalah mineral yang berasal dari batuan beku asam metamorf dan sedimen, dalam bentuk dengan komposisi sebagian besar berupa silika dan terdapat pada sebagian batu pasir kuarsa. Fungsi kuarsa di dalam pembuatan keramik adalah • Tidak mengurangi keplastisan dan penyusutan pad abodi keramik. • Mengurangi susut kering dan susut bakar dari tanah liat. • Memudahkan air untuk menguap sewaktu prises pengeringan dan proses pembakaran • Memberi sifat kuat pada barang – barang yan dibuat dan dapat mencegah perubahan bentuk pada waktu dibakar. • Dapat mengurangi daya memuai dari benda yang sudah jadi[3]. Gambar 4. Sifat – Sifat Keramik Setiap bahan memiliki sifat masing – masing yang menunjukkan kelebihan atau kekurangan setiap bahan, begitu pula dengan keramik. Adapun sifat keramik adalah didasarkan pada dua sifat, yaitu sifat mekanik dan sifat listrik sebagai berikut a. Sifat Mekanik Keramik biasanya material yang kuat, dan keras dan juga tahan korosi. Sifat-sifat ini bersama dengan kerapatan yang rendah dan juga titik lelehnya yang tinggi, membuat keramik merupakan material struktural yang menarik[2]. Aplikasi struktural keramik maju termasuk komponen untuk mesin mobil dan struktur pesawat. Misalnya, TiC mempunyai kekerasan 4 kali kekerasan baja. Jadi, kawat baja dalam struktur pesawat dapat diganti dengan kawat TiC yang mampu menahan beban yang sama hanya dengan diameter separuhnya dan 31 persen berat. Semen dan tanah liat adalah contoh yang lain, keduanya dapat dibentuk ketika basah namun ketika kering akan menghasilkan objek yang lebih keras dan lebih kuat. Material yang sangat kuat seperti alumina Al2O3 dan silikon karbida SiC digunakan sebagai abrasif untuk grinding dan polishing[2]. Keterbatasan utama keramik adalah kerapuhannya, yakni kecenderungan untuk patah tiba-tiba dengan deformasi plastik yang sedikit. Ini merupakan masalah khusus bila bahan ini digunakan untuk aplikasi struktural. Dalam logam, elektron-elektron yang terdelokalisasi memungkinkan atom-atomnya berubah-ubah tetangganya tanpa semua ikatan dalam strukturnya putus. Hal inilah yang memungkinkan logam terdeformasi di bawah pengaruh tekanan. Tapi, dalam keramik, karena kombinasi ikatan ion dan kovalen, partikel-partikelnya tidak mudah bergeser. Keramiknya dengan mudah putus bila gaya yang terlalu besar diterapkan[2]. Faktor rapuh terjadi bila pembentukan dan propagasi keretakan yang cepat. Dalam padatan kristalin, retakan tumbuh melalui butiran trans granular dan sepanjang bidang cleavage keretakan dalam kristalnya. Permukaan tempat putus yang dihasilkan mungkin memiliki tekstur yang penuh butiran atau kasar. Material yang amorf tidak memiliki butiran dan bidang kristal yang teratur, sehingga permukaan putus kemungkinan besar mulus penampakannya[2]. Kekuatan tekan penting untuk keramik yang digunakan untuk struktur seperti bangunan. Kekuatan tekan keramik biasanya lebih besar dari kekuatan tariknya. Untuk memperbaiki sifat ini biasanya keramik di-pretekan dalam keadaan tertekan[2]. b. Sifat Hantaran Listrik. Sifat listrik bahan keramik sangat bervariasi. Keramik dikenal sangat baik sebagai isolator. Beberapa isolator keramik seperti BaTiO3 dapat dipolarisasi dan digunakan sebagai kapasitor[2]. Keramik lain menghantarkan elektron bila energi ambangnya dicapai, dan oleh karena itu disebut semikonduktor. Tahun 1986, keramik jenis baru, yakni superkonduktor temperatur kritis tinggi ditemukan. Bahan jenis ini di bawah suhu kritisnya memiliki hambatan = 0. Akhirnya, keramik yang disebut sebagai piezoelektrik dapat menghasilkan respons listrik akibat tekanan mekanik atau sebaliknya[2]. Sering pula digunakan bahan yang disebut dielektrik. Bahan ini adalah isolator yang dapat dipolarisasi pada tingkat molekular. Material semacam ini digunakan untuk menyimpan muatan listrik[2]. Kekuatan dielektrik bahan adalah kemampuan bahan tersebut untuk menyimpan elektron pada tegangan tinggi. Bila kapasitor dalam keadaan bermuatan penuh, hampir tidak ada arus yang lewat. Namun dengan tegangan tinggi dapat mengeksitasi elektron dari pita valensi ke pita konduksi. Bila hal ini terjadi arus mengalir dalam kapasitor, dan mungkin disertai dengan kerusakan material karena meleleh, terbakar atau menguap. Medan listrik yang diperlukan untuk menghasilkan kerusakan itu disebut kekuatan dielektrik. Beberapa keramik mempunyai kekuatan dielektrik yang sangat misalnya sampai 160 kV/cm. Sebagian besar hantaran listrik dalam padatan dilakukan oleh elektron. Di logam, elektron penghantar dihamburkan oleh vibrasi termal meningkat dengan kenaikan suhu, maka hambatan logam meningkat pula dengan kenaikan suhu[2]. Sebaliknya, elektron valensi dalam keramik tidak berada di pita konduksi, sehingga sebagian besar keramik adalah isolator. Namun, konduktivitas keramik dapat ditingkatkan dengan memberikan ketakmurnian. Energi termal juga akan mempromosikan elektron ke pita konduksi, sehingga dalam keramik, konduktivitas meningkat hambatan menurun dengan kenaikan suhu[2]. Beberapa keramik memiliki sifat piezoelektrik, atau kelistrikan tekan. Sifat ini merupakan bagian bahan “canggih” yang sering digunakan sebagai sensor. Dalam bahan piezoelektrik, penerapan gaya atau tekanan dipermukaannya akan menginduksi polarisasi dan akan terjadi medan listrik, jadi bahan tersebut mengubah tekanan mekanis menjadi tegangan listrik. Bahan piezoelektrik digunakan untuk tranduser, yang ditemui pada mikrofon, dan sebagainya[2]. Dalam bahan keramik, muatan listrik dapat juga dihantarkan oleh ion-ion. Sifat ini dapat diubah-ubah dengan merubah komposisi, dan merupakan dasar banyak aplikasi komersial, dari sensor zat kimia sampai generator daya listrik skala besar. Salah satu teknologi yang paling prominen adalah sel bahan bakar. Kemampuan penghantaran ion didasarkan kemampuan keramik tertentu untuk memungkinkan anion oksigen bergerak, sementara pada waktu yang sama tetap berupa isolator. Zirkonia, ZrO2, yang distabilkan dengan kalsia CaO, adalah contoh padatan ionik[2]. 5. Tahapan pembuatan keramik Tahapan dalam pembuatan keramik dibagi menjadi lima tahapan, yaitu Tujuan pengolahan bahan ini adalah untuk mengolah bahan baku dari berbagai material yang belum siap pakai menjadi badan keramik plastis yang telah siap pakai. Pengolahan bahan dapat dilakukan dengan metode basah maupun kering dengan cara manual ataupun masinal. Di dalam pengolahan bahan ini ada proses – proses tertentu yang harus dilakukan antara lain pengurangan ukuran butir, penyaringan, pencampuran, pengadukan mixing, dan pengurangan kadar air. Pengurangan ukuran butir dpaat dilakukan dengan penumbukan atau penggilingan dengan ballmill. Penyaringan dimaksudkan untuk memisahkan material dengan ukuran yang tidak seragam. Ukuran butir biasanya menggunakan ukuran mesh. Ukuran yang lazim digunakan adalah 60 – 100 mesh[3]. Gambar material pada pembuatan keramik[13] Tahap pembentukan adalah tahap mengubah bongkahan badan tanah liat plastis menjadi benda – benda yng dikehendaki. Ada tiga keteknikan utama dalam membentuk benda keramik pembentukan tangan langsung handbuilding, teknik putar throwing, dan teknik cetak casting [3]. Gambar 7. Proses pembentukan keramik[9] Tujuan utama dari tahap ini adalah untuk menghilangkan air plastis yang terikat pada badan keramik. Ketika badan keramik plastis dikeringkan akan terjadi 3 proses penting 1. Air pada lapisan antarpartikel lempung mendifusi ke permukaan, menguap, sampai partikel – partikel saling bersentuhan dan penyusutan berhenti. 2. Air dalam pori hilang tanpa terjadi susut. 3. Air yang terserap pada permukaan partikel hilang[3]. Gambar 8. Proses pengeringan keramik[9] Pembakaran merupakan inti dari pembuatan kermaik di mana proses ini mengubah massa yang rapuh menjadi massa yang padat, keras, dan kuat. Pembakaran dilakukan dalam sebuah tungku / furnace suhu tinggi. Ada beberapa parameter yang mempengaruhi hasil pembakaran suhu sintering / matang, atmosfer tungku dan tentu saja mineral yang terlibat. Selama pembakaran, badan keramik mengalami beberapa reaksi – reaksi penting, hilang / muncul fase mineral, dan hilang berat weight loss[3]. Gambar pembakaran keramik[11] Pengglasiran merupakan tahap yang dilakukan sebelum dilakukan pembakaran glasir. Benda keramik biskuit dilapisi glasir dengan cara dicelup, dituang, disemprot, atau dikuas. Untuk benda – benda yang besar pelapisan dilakukan dengan penyemprotan. Fungsi glasir pada produk keramik adalah untuk menambah keindahan, supaya lebih kedap air, dan menambahkan efek – efek tertentu sesuai keinginan[3]. Gambar pengglasiran dengan menambah unsur hias / seni pada keramik[10] 6. Teknik Pembuatan Keramik Teknik yang umum digunakan dalam proses pembuatan keramik yaitu a. Teknik coil pilin Merupakan teknik pembuatan keramik dengan cara membuat pilinan kecil seperti cacing. Sesuai namanya maka keramik dibuat dari susunan pilinan-pilinan yang disambung. Ketebalan pilinan yang digunakan disesuaikan dengan ketebalan benda yang akan dibuat. Benda keramik yang dibuat dengan teknik pilin dapat diujudkan dalam karakter aslinya yang menampakkan pilinan atau permukaannya dihaluskan sehingga kesan pilinan tidak kelihatan. Hal yang penting untuk diperhatikan adalah ketika menyambung pilinan, permukaan pilinan yang akan disambung hendakknya dibasahi dengan air atau dilem’ memakai lumpur tanah liat. Agar lebih kuat, akan lebih baik apabila permukaan yang akan disambung diberi goresan lebih dahulu. Berikut ini langkah langkah membuat benda dengan teknik pilin[4]. Tabel – Langkah Membuat Benda dengan Teknik Coil / Pilin[4] No. Deskripsi Gambar 1. Membuat pilinan dengan alas meja kerja atau tangan langsung. 2. Alas benda dapat dibuat dengan pilinan atau lempengan tanah liat. 3. Menghaluskan alas benda 4. Memasang dan menyambung pilinan dengan alas. 5. Menghaluskan permukaan benda 6. Menghaluskan keseluruhan permukaan 7. Benda siap dikeringkan b. Teknik tatap batu / pijar jari pinch Cara pembuatan keramik dengan membuat bulatan tanah liat. Istilah pinch bila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia berarti cubitan atau pijatan, karena tangan kita menekan sesuatu’. Teknik ini merupakan keteknikan bagi pemula dalam membentuk sebuah benda keramik, contoh yang sangat sederhana berupa mangkuk atau bentuk organis tak beraturan. Hasil jejak pijitan akan bisa ditampilkan dari tekanan ibu jari dan telunjuk tangan anda. Fungsi pemijitan dengan jari adalah untuk mengarahkan bentuk pada benda yang akan dibuat, juga untuk meratakan ketebalan benda secara keseluruhan. Benda yang dihasilkan dari teknik pijit ini berupa bentuk-bentuk keramik yang berukuran relatif kecil sampai sedang[5]. Tabel Membuat Benda dengan Teknik Tatap Batu / Pijar Jari Pinch[5] No. Deskripsi Gambar 1. Ambil tanah liat secukupnya, buatlah bola padat, kemudian tekan pusat bola dengan ibu jari 2. Lakukan penekanan dengan ibu jari secara memutar pada dinding benda diawali dari bawah terus naik sampai pada bagian bibir benda. 3. Lakukan pemijitan secara menyeluruh hingga terbentuk benda yang diinginkan. 4. Rapikan bagian luar badan benda agar tampilan tampak selesai. c. Teknik Lempengan Slab Teknik lempeng digunakan untuk membuat bentuk-bentuk utamanya bentuk yang memiliki sudut, seperti bentuk kubus, kotak, persegi panjang, segitiga, segi lima , hexagon dan lain sebagainya. Di dalam teknik lempeng di bedakan menjadi 2 jenis tanah Lempeng lunak soft slabbing. Lempeng “keras” hard slabbing[6]. Jenis lempengan dengan tanah lunak sangat responsive memudahkan untuk di bentuk, folding dapat dilipat, crumpling keriput / kusut, frilling rumbai – rumbai dan mudah untuk dibengkokan. Teknik ini jika di kriya tekstil hampir seperti membuat baju atau seni melipat kertas origami. Sedangkan lempeng “keras” sama seperti joinery menyambung / merangkai. Produk yang dapat dibuat dengan teknik ini antara lain Lempeng bentuk datar berupa tegel, relief, papan nama, hiasan dinding dan sebagainya. Lempeng lipat berupa wadah, standar buku, tempat surat dan lain-lain. Lempeng dengan acuan former berupa berbagai bentuk wadah. Lempeng sambung produknya berupa tempat alat tulis, asbak, vas, dan sebagainya[6]. Untuk memperkuat pada bagian sambungan, pada teknik ini biasanya ditambahkan pilinan pada sudut-sudut yang dirangkai. Cara menyambung lempengan dilakukan dengan menggores bagian yang akan disambung dan mengolesinya dengan lumpur tanah kemudian disatukan denga kuat[6]. Berikut ini urutan gambar membuat kotak dengan teknik slab/ lempeng. Tabel – Langkah Membuat Benda dengan Teknik Lempengan Slab[6] No. Deskripsi Gambar 1. Membuat lempengan dengan roller pin. 2. Memotong lempengan 3. Membuat goresan untuk sambungan 4. Merakit menyambung antar bagian 5. Merapikan d. Teknik Cetak Proses pencetakan benda keramik dialkukan setelah cetakan benar-benar kering sehingga kemampuan cetakan gips untuk menyerap air dari slip tanah liat dapat dengan cepat. Setelah cetakan badan benda, tutup, dan knob benar-benar kering, maka cetakan tersebut siap digunakan, satukan bagian-bagian cetakan dan ikat menggunakan karet dengan kuat agar slip tanah liat tidak mangalir pada belahan cetakan[7]. Tabel – Langkah Membuat Benda dengan Teknik Cetak[7] No. Deskripsi Gambar 1. Siapkan slip tanah liat sesuai kebutuhan untuk proses pencetakan benda keramik. 2. Tuang slip tanah liat ke dalam cetakan hingga penuh, lakukan berulang – ulang hingga mencapai ketebalan benda yang diinginkan. Tuang balik slip tanah liat dari dalam cetakan, kemudian letakkan cetakan dalam posisi terbalik agar sisa-sisa slip tanah liat dapat mengalir. 3. Lepaskan karet pengikat, buka cetakan gips apabila benda hasil cetakan sudah dapat dilepaskan. 4. Potong sisa-sisa tanah dari benda hasil cetakan menggunakan pisau. 5. Sambung bagian-bagian benda knob dan tutup dengan cara menggores bagian yang akan disambung dan olesi dengan slip tanah liat. 6. Rapikan bagian sambungan menggunakan pisau kemudian haluskanpermukaan benda menggunakan spon basah. 7. Diangin – anginkan hingga kering dan siap untuk dibakar biskuit. e. Teknik Putar Proses pembetukan benda keramik diawali dengan proses pengulian tanah liat. Pengulian tanah liat bertujuan untuk didapatkan tanah liat yang plastis, homogen, bebas gelembung udara, dan kotoran. Proses pengulian tanah liat dilakukan setiap kali akan membentuk benda keramik. Sebelum membentuk benda silindris, sebaiknya tanah liat yang siap pakai dibuat bola-bola tanah liat dengan berat yang bervariasi dari 1 kg, 2 kg, 3 kg, 4 kg bahkan lebih[8]. Tabel – Langkah Membuat Benda dengan Teknik Putar[8] No. Deskripsi Gambar 1. Centering Tahap pemusatan tanah liat plastis di atas putaran dengan cara menekan tanah liat. Penekanan dilakukan dengan menggunakan kedua tangan, tangan yang satu menekan dari atas dan tangan lain menahan pada bagian samping. Lakukan proses ini dengan benar sehingga tanah liat memusat tepat di tengah alat putar. Tahap ini harus dikuasai dengan benar karena akan berpengaruh pada tahap selanjutnya. 2. Coning Tahap pembentukan tanah liat seperti kerucut cone. Caranya dengan menekan tanah liat pada bagian samping menggunakan kedua tangan, kemudian menekan kerucut tanah liat ke bawah sehingga membentuk seperti mangkok terbalik, lakukan tahap ini beberapa kali. 3. Opening dan Raising Tahap melubangi open up dan menaikkan tanah liat pulling up atas dengan tangan yang di dalam menekan kearah luar, sedangkan tangan yang di luar menahan sehingga membentuk silinder. 4. Forming Tahap membentuk shaping ini sangat penting karena tahap pembentukan benda keramik menjadi bentuk yang diinginkan sesuai gambar kerja. Pembentukan dilakukan dengan menggunakan kedua tangan dan pada tahap ini diperlukan keterampilan tangan untuk membentuk tanah liat menjadi benda keramik. 5. Refining the contour Tahap ini adalah tahap pengecekan atau pengontrolan dari sisi bentuk dan ukuran benda keramik yang dibuat. Pengecekan menggunakan penggaris untuk mengukur tinggi dan kaliper / jangka bengkok untuk mengukur diameter. 6. Finishing Tahap ini adalah tahap penyelesaian pembentukan benda keramik, yaitu meratakan permukaan benda dengan menggunakan alat butsir, scraper, atau ribbon kemudian menghaluskan dengan spon. Pada kondisi benda setengah kering leather hard dilakukan pengikisan trimming / turning, pada bagian dasar benda keramik, dan dibuat kaki benda. 7. Referensi [10] diakses pada tanggal 10 Oktober 2014 WIB
0% found this document useful 0 votes1K views16 pagesOriginal TitleTeknik Pembuatan © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes1K views16 pagesTeknik Pembuatan KeramikOriginal TitleTeknik Pembuatan to Page You are on page 1of 16 You're Reading a Free Preview Pages 6 to 14 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
Teknik Pilin – Teknik Pilin sebagai salah satu teknik yang dapat digunakan dalam proses pembuatan kerajinan tangan dengan berbahan dasar tanah liat atau gerabah. Dikutip dari buku Terampil Berkreasi, Nandang Subarnas, teknik pilin adalah suatu teknik membentuk bahan baku tanah liat dengan cara memilin sehingga tampak seperti tali. Berikut dibawah ini adalah pengertian jenis dan cara membuat keramik dengan teknik pilin. Pengertian Teknik PilinTeknik Pilin dalam Proses Pembuatan Keramik1. Pengolahan Bahana. Tanah Liatb. Pasirc. Feldspar2. Pembentukan Keramik3. Pengeringan Keramik4. Tahap Finishing5. Pembakaran KeduaPerbedaan Teknik Pilin dengan Teknik Lainnya dalam Pembuatan Keramik1. Teknik Coiling Lilit Pilin2. Teknik Putar3. Teknik LempenganMembuat Keramik dengan Teknik PilinBuku-Buku Terkait Teknik-Teknik Pembuatan Keramik1. Membuat Keramik Teknik Handbuilding2. Membuat Keramik Teknik Putar3. Mengenal Seni Keramik Modern Perlu diketahui bahwa keramik pada prinsipnya dibedakan menjadi 2 yakni keramik tradisional serta keramik halus. Keramik Tradisional sebagai suatu keramik yang komposisi utamanya berasal bahan alam, seperti kuarsa, kaolin, dan lain-lain. Contoh dari keramik tradisional sendiri adalah industri refractory, barang pecah belah atau dinnerware, serta berbagai keperluan rumah tangga tile dan bricks. Selain itu terdapat juga Keramik Halus atau dalam bahasa inggris disebut fine ceramics sebagai keramik yang dibuat dengan menggunakan oksida-oksida logam diantaranya ZrO2, MgO, AI2O3, dan lainnya. Penggunaan elemen tersebut kemudian digunakan juga sebagai semikonduktor, komponen turbin pemanas, dan juga sangat berguna dalam bidang medis. Teknik pilin atau disebut juga sebagai teknik coiling dalam suatu proses pembuatan kerajinan tangan dalam bentuk gerabah sendiri umumnya bersifat manual serta menggunakan tangan secara langsung. Adapun cara melakukan teknik pilin adalah dengan cara mengambil segumpal tanah liat terlebih dahulu lalu kemudian disatukan oleh kedua telapak tangan dalam memilin tanah liat hingga akhirnya memiliki bentuk memanjang menjadi sebuah tali. Dalam penggunaan teknik pilin, seorang pengrajin juga dapat mengatur sendiri diameter tanah liat yang dipilin sesuai dengan keinginan serta kebutuhannya masing-masing. Setelah membuat pilinan tali tanah liat dengan jumlah dan diameter yang diinginkan, setelahnya pengrajin dapat mulai membentuk kerajinan gerabah dengan menempelkan tali pilinan yang satu dengan tali pilinan yang lainnya sambil memberikannya sedikit air serta menekan tanah liat agar menyatu secara lebih kuat. Teknik Pilin dalam Proses Pembuatan Keramik Proses pembuatan keramik dapat dilakukan dalam 5 tahap pengerjaan. Keramik, umumnya sendiri dibuat menggunakan bahan dasar tanah liat yang mengalami proses pembentukan serta pembakaran. Keramik sendiri dapat didefinisikan sebagai suatu hasil seni dan teknologi untuk kemudian menghasilkan barang dari tanah liat, di antaranya gerabah, genteng, porselin, dan lain sebagainya. Teknik dan tahapan proses pembuatan keramik menjadi salah satu unsur yang penting dalam membuat keramik. Dalam proses pembuatan keramik, terdapat juga beberapa langkah atau proses pembuatan yang perlu diketahui. 1. Pengolahan Bahan Dalam membuat keramik terdapat bahan-bahan tertentu yang digunakan oleh pembuat keramik, ada 3 macam bahan. a. Tanah Liat Pada tanah liat terdapat empat kandungan utama di antaranya ialah kaolinite, montmorillonite, halloysite dan illite. Dengan adanya perbedaan di antara kandungan tanah maka kemudian akan menghasilkan sifat yang berbeda pula. Sifat yang penting pada tanah ini disebut juga sebagai plastisitas yang artinya kemampuan ini akan dibentuk tanpa mudah retak, dengan kemampuan dilebur fusibilitas, bahan baku pasir kwarsa, serta sebagai bahan non plastik atau fungsi. b. Pasir Pasir berfungsi sebagai bahan pengisi, namun jika penambahannya terlalu banyak silika; maka pasir kemudian menyebabkan keretakan serta proses pembakaran yang tengah berlangsung. c. Feldspar Feldspar berfungsi sebagai bahan pengikat dalam pembuatan keramik serta menurunkan temperatur pembakaran. Terdapat beberapa jenis bahan feldspar yang diantaranya adalah K-feldspar, Ca-feldspar dan Na-feldspar. Pengolahan bahan ini merupakan proses mengolah bahan baku, di antaranya tanah liat yang belum siap pakai hingga menjadi bahan keramik plastis yang siap pakai. Pengolahan bahan sendiri umumnya dilakukan dengan dua metode yaitu basah maupun kering. Baik dengan langkah manual maupun masimal. Dalam pengolahan bahan terdapat beberapa proses tertentu yang harus dilakukan, yakni Pengurangan ukuran butir sendiri dapat dilakukan dengan melalui penumbukan atau penggilingan dengan menggunakan ball mill. Penyaringan ini sendiri bertujuan untuk memisahkan material dengan ukuran yang tak sama. Melakukan pencampuran serta pengadukan, yang bertujuan mendapatkan campuran bahan yang sifatnya homogen. Pengadukan ini sendiri dilakukan dengan cara manual maupun masinal dengan sebelumnya menggunakan blunger maupun mixer. Pengurangan kadar air sendiri bertujuan untuk mengurangi jumlah air yang terkandung sehingga menjadi badan keramik dalam plastis, proses ini kemudian dilakukan dengan cara diangin-anginkan diatas meja gips atau dilakukan dengan alat filter press. Pengulian sendiri bertujuan untuk menghomogenkan massa badan pada tanah liat dan membebaskan gelembung-gelembung udara yang terjebak di dalamnya. Massa badan keramik yang telah diuli sendiri kemudian disimpan dalam wadah tertutup, kemudian diperam agar mendapatkan hasil yang maksimal. 2. Pembentukan Keramik Langkah selanjutnya adalah proses pembentukan tanah liat sesuai dengan kreativitas masing-masing. Terdapat empat teknik yang umumnya digunakan dalam pembentukan tanah liat, yaitu teknik lintingan, teknik pijat, teknik butsir, dan teknik putar. Teknik lintingan sebagai salah satu teknik yang digunakan dengan menyusun lintingan-lintingan kecil. Teknik pijatan sendiri merupakan teknik yang digunakan dengan menyusun keratan lempengan dengan bahan sesuai dengan rencana pembuat. Teknik butsir merupakan suatu cara mengurangi sedikit-demi sedikit bahan dengan menggunakan sudip sehingga bahan terbentuk. Sementara teknik putar adalah teknik membuat keramik dengan cara menggunakan alat bernama kickwell atau handwell. Teknik yang paling sering digunakan oleh para pengrajin keramik adalah teknik putar. 3. Pengeringan Keramik Setelah proses pembentukan, keramik kemudian akan melalui tahap pengeringan untuk dapat menghilangkan kadar air yang masih terjebak di dalamnya. Proses pengeringan yang paling baik dilakukan dengan memanfaatkan angin alam serta suhu ruangan atau penjemuran di luar ruangan dengan memanfaatkan terik matahari. Pembakaran keramik Setelah melalui proses pengeringan untuk dapat mengurangi kadar air, keramik selanjutnya akan masuk ke tahap pembakaran. Proses ini sendiri dilakukan agar keramik memiliki bentuk yang keras, padat, dan kuat. Keramik yang masih mentah ini sendiri sebaiknya dibakar dengan menggunakan suhu sekitar 700-1000 derajat celcius. Untuk mendapatkan hasil keramik terbaik, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan pada tahapan pembakaran. Seperti diantaranya atmosfer tungku, suhu, serta mineral yang terlibat. Pengglasiran atau setelah dibakar, keramik kemudian akan masuk proses pengglasiran yang bertujuan melindungi keramik, memperkuat struktur, serta memperindah tampilannya. Keramik kemudian dilapisi glasir dengan cara dicelup, dituang, disemprot, juga di kuas. Setelah diglasir, keramik juga dapat secara langsung didekorasi sesuai dengan keinginan untuk memperindah keramik. Ada beberapa teknik dekorasi keramik yang dapat dilakukan, seperti dekorasi ukir, dekorasi toreh, dekorasi melubangi, dekorasi cap atau stempelan. 4. Tahap Finishing Pada tahapan finishing, keramik dapat dihaluskan dan diwarnai sesuka hati. Alat yang digunakan untuk menghaluskan umumnya ialah ampelas. 5. Pembakaran Kedua Setelah keramik jadi sesuai dengan bentuk yang diinginkan, keramik kemudian dibakar kembali untuk membuatnya lebih kuat. Pembakaran kedua ini kemudian dilakukan pada suhu derajat celcius dalam waktu 10 jam. Setelah pembakaran kedua, keramik kemudian siap untuk dijual, dijadikan hiasan, atau digunakan juga dalam berbagai kegiatan sehari-hari. Perbedaan Teknik Pilin dengan Teknik Lainnya dalam Pembuatan Keramik Tak hanya tahapan dalam pembuatan keramik, beberapa teknik-teknik pembuatan keramik juga patut untuk diketahui. Mulai dari teknik pijat jari atau pinching sebagai teknik membuat keramik nusantara dengan cara memijat tanah liat langsung dengan menggunakan tangan. Di bawah ini adalah teknik-teknik pembuatan keramik yang dapat kamu gunakan. 1. Teknik Coiling Lilit Pilin Teknik pilin sebagai salah satu langkah pembuatan keramik dengan membentuk tanah liat dengan bentuk bahan dasar tanah liat yang kemudian dipilin atau dibentuk seperti tali. Coiling Teknik pilin coiling sebagai salah satu cara membentuk tanah liat dengan bentuk dasar tanah liat yang dipilin atau dibentuk seperti tali. Cara melakukan teknik pilin ini ialah dengan segumpal tanah liat dibentuk pilinan dengan kedua telapak tangan. Ukuran tiap pilinan kemudian disesuaikan dengan ukuran yang diinginkan. Panjangnya juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Kemudian, pilinan tanah liat tersebut dibuat secara melingkar sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Tekan tiap susunan serta tambahkan air agar menempel. 2. Teknik Putar Teknik putar merupakan teknik pembuatan keramik paling populer. Teknik puter sebagai suatu teknik pembuatan keramik dengan menggunakan alat putar yang dapat menghasilkan banyak bentuk yang simetris dan bervariasi. 3. Teknik Lempengan Teknik slab merupakan teknik pembuatan keramik tradisional yang bebas untuk membuat bentuk-bentuk yang diinginkan serta umumnya bentuknya kemudian tidak selalu simetris. Membuat Keramik dengan Teknik Pilin Kreasi dalam bentuk gerabah yang akan dibuat kemudian menyesuaikan dengan fungsi benda tersebut, seperti periuk dan belanga, tempayan, kendi. Peralatan yang dipakai dalam membuat gerabah sendiri di antaranya pisau cukil yang terbuat dari kayu atau bambu, sundi yang di buat dari kawat, butsir yang bertangkai kayu, meja putaran subang pelarik, tali pemotong, kayu salab atau kayu rool penggilas, serta pisau. Dalam pembuatan gerabah ini dibutuhkan dengan menggunakan suatu teknik tertentu. Di antara teknik yang di gunakan terdapat Teknik pilin. Salah satu teknik dalam membuat keramik dengan tangan langsung adalah teknik pilin. Sesuai dengan namanya maka keramik sendiri di susunan melalui pilinan-pilinan yang disambung. Ketebalan pilinan yang digunakan sendiri kemudian disesuaikan dengan ketebalan benda yang akan dibuat. Pembuatan keramik dengan teknik pilin ini dapat diwujudkan dalam karakter aslinya yang menampakkan pilinan atau permukaan yang dihaluskan sehingga kesan pilinan tidak terlalu kelihatan. Hal yang penting untuk diperhatikan ialah saat menyambung pilinan, permukaan pilinan yang akan disambung ini hendaknya dibasahi dengan air atau dilem’ dengan menggunakan lumpur tanah liat. Agar lebih kuat, sebaiknya pada permukaan yang akan disambung diberi goresan terlebih dahulu. Nah, Berikut ini langkah-langkah singkat dalam membuat benda dengan teknik pilin Dengan membuat pilinan dengan alas meja kerja atau tangan langsung. Alas benda kemudian dapat dibuat dengan pilinan atau lempengan tanah liat. Dengan menghaluskan alas benda Dengan memasang dan menyambung pilinan dengan alas. Dengan Menghaluskan permukaan benda Dengan menghaluskan keseluruhan permukaan hingga benda siap dikeringkan. Buku-Buku Terkait Teknik-Teknik Pembuatan Keramik 1. Membuat Keramik Teknik Handbuilding Dalam buku ini, penulisnya memperlihatkan bahwa membuat keramik tidaklah sulit—cukup dengan peralatan yang sederhana. Menggunakan salah satu teknik pembuatan keramik, yaitu teknik handbuilding, pembaca awam pun bisa membuat keramik sendiri. Ditulis sebagai panduan praktis, buku ini cocok untuk mereka yang ingin membuat keramik sebagai hobi. Dilengkapi gambar mengenai proses penyiapan dan pengolahan tanah liat, pendekorasian, dan pembakaran keramik, buku ini membuktikan bahwa pembuatan keramik cukup sederhana dan menyenangkan. 2. Membuat Keramik Teknik Putar Memutar throwing adalah cara membuat pot dengan bantuan kecepatan gerak berputar roda dengan menggunakan tangan dan air sebagai pelumas pelicinnya. la merupakan salah satu teknik yang paling menarik, ekspresif, dan impresif dalam pembuatan keramik. Buku ini ditulis sebagai petunjuk praktis yang menjelaskan langkah-langkah mempelajari teknik putar dalam pembuatan keramik agar mudah dilakukan oleh para peminatnya. 3. Mengenal Seni Keramik Modern Buku ini membahas perkembangan seni keramik modern dalam konteks umum, yaitu memaparkan bagaimana bidang keahlian dan keprofesian terbangun dalam konteks masyarakat modern. Meski seni modern menyebar dan dipraktikkan di seluruh dunia, namun dalam kenyataan tetaplah tampak fenomena yang menunjukkan perbedaan-perbedaan di setiap wilayahnya. Karena itu buku ini menjabarkan pula perkembangan seni keramik di Eropa, Amerika, dan Jepang, sebagai wilayah-wilayah yang berperan penting dalam pemikiran dan perkembangan seni keramik modern. Dalam kaitannya lokal, buku ini memuat pula pembahasan mengenai seni keramik modern Indonesia. Demikian ulasan tentang teknik pilin dan teknik lainnya dalam pembuatan keramik. Jika Grameds ingin membaca buku-buku terkait, kamu bisa mendapatkannya di Sebagai SahabatTanpaBatas Gramedia selalu memberikan produk terbaik agar kamu memiliki informasi LebihDenganMembaca. Penulis Sofyan BACA JUGA Proses Pembuatan Gerabah dari Tanah Liat dan Teknik Pembuatannya Gerabah Sejarah, Proses Pembuatan, dan Contohnya Manfaat, Tujuan, dan Jenis-Jenis Kerajinan Contoh Kerajinan 3 Dimensi dan Cara Membuat Menjadi Karya yang Bernilai Tinggi Contoh-Contoh Kerajinan Bahan Lunak Alami dan Buatan Kerajinan dari Tanah Liat Karakteristik, Jenis, dan Ide Dekorasinya ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah." Custom log Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda Tersedia dalam platform Android dan IOS Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis Laporan statistik lengkap Aplikasi aman, praktis, dan efisien
Teknik pilin atau teknik coil juga merupakan teknik dasar dalam pembuatan keramik yaitu, menyusun pilinan tanah liat yang direkatkan menggunakan slip tanah liat yang diencerkan. Dilihat dari hasil jadinya keramik yang dibuat menggunakan teknik tersebut sangat unik dan berkarakter. Meskipun terlihat rumit namun cara pembuatanya sangat sederhana. Untuk melatih kemampuan ini dapat dilakukan dengan cara membuat bentuk tabung. Berikut langkah-langkanya Pertama-tama buatlah bolah tanah liat seperti gambar diatas Kemudian pipihkan di atas papan hingga membentuk lempengan bulat dengan cata ditekan atau dipukul menggunakan telapak tangan secara perlahan Apabila ingin mendapatkan bentuk yang rapi dan bulat sempurna, dapat menggunakan benda-benda di sekitar seperti lepek, piring, gelas atau apapun untuk digunakan menjadi mall, lalu potong lempeng tanah menggunakan jarum atau kawat Setelah selesai membuat alas, dapat memulai membuat pilinan tanah liat dengan cara di gulung-gulungkan di atas papan yang rata Sebelum mulai menempelkan pilinan tanah diatas alas, lukailah permukanya terlebih dahulu menggunakan jarum atau semacamnya supaya pilinan dapat menempel erat-erat dengan alasnya Setelah itu mulai tempelkan pilinan secaraperlahan Perlu diperhatikan; lukailah setiap permukaan tanah yang akan direkatkan menggunakan slip Lakukan tahapan tersebut sesuai ketinggian dan desain yang sudah ditentukan Jadi deh.,.,.,. Dalam pembuatan keramik dengan teknik pilin adalah menyenangkan. Di atas hanyalah cara, untuk desain dan motif dapat kalian kembangkan sendiri. Selamat Mencoba…..
TEHNIK PEMBUATAN KERAMIK Berbagai macam produk keramik telah banyak dihasilkan oleh pabrik maupun perseorangan, produk tersebut sangat bervariasi baik bentuk maupun ukuran. Hal tersebut tidak luput dari berbagai macam teknik pembuatannya, masing-masing teknik mempunyai ciri khas tersendiri dalam proses pembuatan dan hasil jadi produk. Terdapat beberapa teknik pembuatan keramik secara umum yang perlu diketahui, diantaranya teknik pijit, pilin, putar, lempeng, cetak dan cor. 1. Tekik pijit pinching Teknik pijit atau yang disebut pinching adalah teknik membantuk keramik dengan tangan langsung tanpa menggunakan alat bantu. Proses pembuatan keramik dengan teknik pijit dapat dilihat pada gambar dibawah ini -Tahap pertama diawali dengan mengambil tanah secukupnya yang dibentuk menjadi bulatan dan kemudian ditekan dengan jari sehingga membentuk dinding keramik. -Pemijitan dilakukan terus-menerus sampai membentuk benda yang diinginkan. -Setelah benda terbentuk dengan sempurna maka perlu dihaluskan dengan cara memoleskan sedikit air. c 2. Teknik pilin coiling Sesuai dengan namanya, keramik pilin terbuat dari susunan pilinan yang sambung-menyambung sampai membentuk benda yang diinginkan. Proses membuat keramik pilin sebagai berikut -Membuat keramik pilin diawali dengan membentuk tanah liat menjadi bulatan-bulatan yang kemudian dibentuk menjadi pilinan. -Membuat alas benda harus dilakukan pada awal proses pembentukan, bentuk alas dapat disesuaikan keinginan sesuai dengan bentuk yang akan dibuat. -Memasang pilinan satu-persatu sampai membentuk bodi keramik. c 3. Teknik putar throwing Teknik dengan menggunakan alat putar ini biasanya digunakan untuk membuat benda-benda silindris. Untuk membuat keramik dengan teknik putar atau throwing memerlukan alat bantu berupa subang pelarik atau alat putar elektrik. -Memusatkan tanah dengan cara meletakkan tanah pada pusat alat putar. -Menekan dengan menggunakan kedua tangan, tangan yang satu menekan dari bagian atas, sedangkan yang satu dari arah samping. -Coning yakni tahap pembentukan tanah seperti kerucut cone dengan cara menekan tanah liat pada bagian samping menggunakan kedua tangan kemudaian menekan tanah ke bawah, sehingga membentuk seperti mangkuk. -Opening dan raising adalah tahap melubangi open up dan menaikkan pulling up tanah liat ke bagian atas tangan. Tangan yang di dalam menekan keluar, sedangkan tangan yang diluar menahan sehingga membentuk silinder. -Forming disebut juga tahap membentuk shaping yang sangat penting untuk menentukan bentuk keramik sesuai dengan desain. -Refiting the Contour yakni pengecekan sisi dan bentuk keramik dengan menggunakan penggaris atau kawat untuk mengukur tinggi dan jangka lengkung unutk mengukur diameter. c 4. Teknik lempeng slabing Teknik lempeng atau slabing merupakan teknik yang digunakan untuk membuat benda gerabah berbentuk kubistis atau kubus dengan permukaan yang rata. Teknik ini diawali dengan cara memipihkan tanah dengan menggunakan alat rol kayu penggilas dengan tujuan untuk memdapatkan ketebalan tanah yang sama. Berikut tahapannya -Memipihkan tanah untuk menghasilkan ketebalan yang sama dengan alat bantu rol. -Memotong tanah menjadi beberapa bagian sesuai dengan yang diinginkan. -Menggores bagian tanah yang akan disambung dengan menggunakan jarum atau kayu yang berukuran kecil. -Menyambungkan satu-demi satu bagian dengan cara memberi lem bubur tanah sejenis pada bagian tanah yang di gores. -Menyempurnakan bentuk keramik yang telah jadi dengan merapikan sisi permukaannya untuk memberikan dekorasi. c 5. Teknik cor atau tuang sliping Pembuatan keramik dengan teknik catak sangat bevarisai tergantung dengan bentuk yang diinginkan. Salah satu teknik cetak adalah dengan menggunakan model cetakan sebagai acuan dalam pembuatan benda keramik yang akan dibuat. Berikut prosesnya -Membuat model benda keramik yang diinginkan yang berbahan tanah liat. -Menentukan garis tengah pada model untuk menentukan belahan cetakan gips. -Menutup model dengan bahan alumunium untuk membuat cetakan gips pertama kemudaian mengikatnya. -Menuang adonan gips kedalam cetakan dan tunggu hingga gips mengering. -Menyatukan cetakan kemudian membuat tirus menggunakan tanah liat plastis yang digunakan untuk membuat lubang cetakan gips. -Membuka dan kemudian bersihkan dan jemur hingga kering. -Gips hasil cetakan disatukan dan diikat kuat dengan menggunakan karet. -Menuangkan tanah liat kedalam cetakan hingga penuh, lakukan sampai membentuk ketebalan yang di inginkan. -Melepaskan karet pengikat apabila dirasa telah kering, buka cetakan gips dan keluarkan hasil cetakan kemudian keringkan.
pembuatan keramik dengan cara membuat pilinan kecil seperti cacing disebut